Kisah-kisah Teladan dan Inspiratif
Sabtu, 26 September 2015
Keep The Faith
Jumat, 04 September 2015
Kisah Lelaki Biasa
kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang. Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali. Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.
Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya. Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan. Dokter? Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar. Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat? Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operrasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri. Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir. Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat. Pendarahan hebat!
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis. Mama Nania yang baru tiba, menangis.
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Al-Qur'an kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya. Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi. Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh? Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli. Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun. Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari.
Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat. Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik. Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua! Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya. Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta.
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi? Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan. Ya. Dua puluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna.
Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.
Kamis, 19 Februari 2015
Detik-detik Kepergian Siti Aminah
DETIK-DETIK kepergian Siti Aminah ( ibunda tercinta RASULALLOH )
....Suatu hari timbul keinginan dalam hati Aminah untuk membawa Muhammad kecil(-/+6thn) ke Yastrib (Madinah) tuk diperkenalkan dengan sanak keluarga pihak ayahnya (Abdullah) yg memang keturunan bani Ady bin Najar.
Maka berangkatlah Muhammad, bundanya dan Ummu Aiman ( budak perempuan peninggalan ayahnya), mereka pergi ikut rombongan kafilah dagang, setibanya di Madinah Muhammad kecil di perkenalkan dgn banyak saudaranya dan mereka menyayanginya, di Madinah Muhammad kecil bermain dengan senangnya dalam kehangatan cinta dari keluargnya hingga tak terasa sudah lebih sebulan mereka menetap dan kini tibalah saatnya tuk kembali pulang.
Kelak setelah menjadi RASUL ia akan kembali & di sambut penuh cinta oleh penduduknya. Pulang dgn hati berat karena rindu akan suasana Madinah.
Tapi ia tak tahu, sebuah takdir besar dan pilu menanti dalam perjalanan pulang ini.
Cuaca buruk, angin & badai pasir menghadang rombongan kafilah ini, semua rombongan was-was, berdoa serta kondisi fisik mereka lemah.
Benar saja, udara panas tak kuasa di tanggung Aminah. Ia lemas dan jatuh sakit, Ummu Aiman cemas di tengah perjalanan badan Aminah tiba2 panas tinggi dan kondisi tidak memungkinkan tuk melanjutkan & memutuskan berhenti d bawah pohon (rombongan kafilah tdk mngkin berhenti hanya karena ada anggota yg sakit, terpaksa Aminah,Aiman & Muhammad di tinggalkan)
Ummu Aiman makin cemas ia merasa tdk bisa tangani sakitnya yg tambah parah. Apa yg bisa dilakukan seorang budak perempuan tanpa pengalaman di tengah gurun tandus? hnya sebisanya yg bisa ia lakukan.
Lalu ia memandang wajah Mahammad kecil dgn kesedihan berlipat. Kasihan sakali anak ini, pikirnya. Ia yatim sejak di kandungan & kini menyaksikan bundanya terbaring tak berdaya.
Batinnya sedih, airmatanya berlinang menyaksikan bundanya berbaring tak berdaya.
Tangannya yang kecil memijit kepala bundanya yg dicinta dengan rasa sayang.
Serta bunda Aminah dengan daya dan upaya terakhirnya meraih kepala Muhammad kecil & mencium pipinya. Senyum bahagia terukir di wajah lembutnya seolah ia akan pergi dgn hati lapang dan ikhlas.
Satu per satu nafasnya hilang dan akhirnya Alloh azza wa jala menjemput insan terkasih ini...
Mengapa bundanya pergi secepat itu? Belum lama ia mengecap kasih sayang bundanya. Melihat kematian Aminah, Ummu Aiman tak kuasa menahan tangis dan sedih, ia memeluk Muhammad kecil... :
.........."Oh kasihan kau,nak. Usiamu masih kecil tapi kini kau telah yatim piatu. Malang nasibmu nak."... demikian ratap Ummu Aiman.
Sejarah mencatat, Ummu Aiman membawa jasad Siti Aminah ke desa terdekat di Abwa dan disanalah ia di kebumikan. Ummu Aiman & Muhammad kecil kemudian kembali ke Mekah membawa kabar nestapa.
Ya, Rasulalloh,.....shalallohu alaihi wassalam....
Shalawat serta salam kami selalu tercurah padamu sebagai bentuk cinta kami, dari kami umatmu diakhir zaman yg selalu merindukanmu.....! Semoga Alloh ta alla mengumpulkan kami bersama dengan mu di akhirat kelak, aamiin.....
Allohu a'lam.....

